TIMUR. Wacana pengoperasian kembali Bandara Badak LNG di Kota Bontang mencuat dalam pembahasan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027. Pemerintah Kota Bontang menyebut bandara tersebut direncanakan menjalani renovasi menyeluruh agar dapat kembali difungsikan, termasuk melayani penerbangan domestik.
Informasi tersebut disampaikan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, saat menghadiri Musrenbang RKPD 2027 pada Selasa, 7 April 2026. Menurut Neni, rencana revitalisasi Bandara Badak LNG menjadi kabar positif bagi upaya penguatan konektivitas daerah, khususnya dalam mendukung masuknya investasi ke Kota Bontang.
Berdasarkan informasi yang diterima Pemerintah Kota Bontang, Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) yang berada di bawah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan, disebut akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp32 miliar untuk mendukung renovasi bandara tersebut.
Anggaran itu direncanakan digunakan untuk pembenahan menyeluruh fasilitas bandara, termasuk perpanjangan landasan pacu atau runway, sehingga Bandara Badak LNG nantinya diharapkan mampu mengakomodasi penerbangan domestik secara lebih optimal.
“Informasinya akan difungsikan kembali. Ini angin segar, karena kalau investor mau datang pasti yang pertama ditanyakan adalah apakah ada bandara. Tolong ini dikejar agar bisa direalisasikan,” ujar Neni.
Menurut dia, keberadaan bandara memiliki peran strategis dalam memperkuat daya tarik investasi dan mempermudah aksesibilitas menuju Kota Bontang. Karena itu, rencana pengaktifan kembali Bandara Badak LNG dinilai menjadi kebutuhan penting bagi percepatan pembangunan daerah ke depan.
Selain mendorong percepatan realisasi renovasi, Neni juga menyoroti aspek legalitas operasional bandara yang perlu segera dituntaskan. Ia mengungkapkan bahwa izin operasional Bandara Badak LNG saat ini hanya berlaku hingga 2027, sehingga proses administrasi dan perizinan harus segera dikejar agar operasional bandara dapat kembali berjalan sesuai rencana.
“Kasihan juga tamu VIP kalau datang ke Bontang tidak punya landasan pacu,” tuturnya.
Sebagaimana diketahui, Bandara Badak LNG telah menghentikan layanan penerbangan sejak 7 Juli 2025. Penghentian operasional tersebut terjadi setelah kontrak kerja sama dengan maskapai Pelita Air untuk layanan penerbangan di bandara tersebut berakhir.
Sebelumnya, Bandara Badak LNG resmi berhenti melayani penerbangan rute Bontang–Balikpapan mulai Senin, 7 Juli 2025. Hal itu sempat dikonfirmasi oleh Officer Media Relation and Doc Control LNG Badak, Andri Saputri.
Ia menjelaskan, penghentian layanan penerbangan dilakukan karena masa kontrak maskapai Pelita Air telah selesai.
“Berhenti sejak kemarin. Penerbangan terakhir pada Minggu,” kata Andri saat itu.
Sebelum menghentikan operasional, Bandara Badak LNG menjadi salah satu moda transportasi penting bagi masyarakat maupun kalangan tertentu yang membutuhkan mobilitas cepat antara Bontang dan Balikpapan. Rute tersebut menawarkan waktu tempuh yang jauh lebih singkat dibandingkan perjalanan darat yang dapat memakan waktu lebih dari empat jam.
Selain efisiensi waktu, penerbangan Bontang–Balikpapan melalui Bandara Badak LNG juga sempat menjadi alternatif strategis karena dijadwalkan beberapa kali dalam sepekan. Kehadiran layanan itu dinilai membantu mendukung aktivitas bisnis, kunjungan kedinasan, hingga mobilitas tamu-tamu penting ke Kota Bontang.
Dengan adanya rencana renovasi total dan dukungan anggaran yang disebut mencapai Rp32 miliar, harapan untuk menghidupkan kembali Bandara Badak LNG kini kembali terbuka. Pemerintah Kota Bontang pun mendorong agar proses tersebut segera dipercepat, baik dari sisi fisik maupun administrasi, agar bandara dapat kembali berfungsi sebagai salah satu penunjang utama konektivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Follow dan Simak Berita Menarik Timur Media Lainnya di Google News >>
