TIMUR. Ancaman bencana longsor masih membayangi warga Kampung Timur, RT 01 Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat. Permukiman warga di kawasan tersebut berada sangat dekat dengan tebing bekas tambang galian C, dengan jarak terdekat hanya sekitar enam meter dari rumah penduduk, sehingga berpotensi menimbulkan longsor susulan.
Kepala Pelaksana BPBD Bontang Usman, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Ismail, menjelaskan kondisi geografis tersebut sangat rawan. Struktur tebing yang berada tepat di sisi rumah warga bukan berupa tanah padat, melainkan pasir sisa aktivitas tambang, sehingga mudah bergerak saat terjadi hujan.
“Sudah dua kali kejadian di lokasi itu. Tidak menutup kemungkinan terjadi lagi, karena material tebingnya berupa pasir,” ujar Ismail.
Ia mengungkapkan, di zona rawan tersebut terdapat lima rumah yang dihuni 16 jiwa. Hingga saat ini, BPBD terus memberikan imbauan kepada warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan, terutama saat curah hujan tinggi.
Sebagai langkah mitigasi awal, Pemerintah Kota Bontang juga menurunkan alat berat berupa ekskavator mini untuk membuat jalur aliran air di sekitar lokasi. Upaya tersebut dilakukan guna mengurangi tekanan air pada tebing dan meminimalkan risiko bencana lanjutan.
Terkait kemungkinan relokasi warga, Ismail menyebut pihaknya masih melakukan koordinasi dengan pihak kelurahan serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Solusi tentu akan kami sampaikan, tetapi perlu koordinasi lanjutan agar penanganannya tepat,” katanya.
Sebelumnya, longsor dilaporkan terjadi di RT 01 Kampung Timur, Kelurahan Kanaan, pada Kamis (15/1/2026) pagi. Peristiwa tersebut berdampak pada empat bangunan warga. Selain longsor, kawasan itu juga dilanda banjir yang membawa material pasir masuk ke rumah penduduk.
Lurah Kanaan, Salmon, menjelaskan longsor terjadi di sekitar tebing bekas tambang galian C. Kondisi tanah yang sudah tidak padat diperparah oleh intensitas hujan yang tinggi, sehingga memicu pergerakan tanah.
“Permukaan tebing sudah tidak keras. Hujan deras membuat tanah longsor,” jelas Salmon.
Material pasir yang terbawa aliran air menyebabkan endapan cukup tebal di dalam rumah warga. Kondisi ini memaksa sebagian warga mengungsi sementara demi keselamatan.
Ancaman longsor tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bontang. Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menginstruksikan jajaran Kelurahan Kanaan, BPBD, serta OPD teknis untuk menyusun laporan dan kajian menyeluruh sebagai dasar pengambilan kebijakan.
“Ini perlu perhatian serius. Jangan menunggu ada korban baru bertindak. Harus dikaji terlebih dahulu agar informasinya valid,” ujar Agus Haris.
Ia juga meminta agar pemetaan tidak hanya difokuskan pada satu titik, melainkan mencakup seluruh kawasan rawan bencana di Kota Bontang. Laporan tersebut nantinya akan menjadi bahan pembahasan program prioritas melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di tingkat RT, kelurahan, hingga kota.
“Yang utama penanganan di lokasi itu. Syukur kalau warga bersedia pindah secara sukarela. Tapi kalau tidak, Pemkot harus memfasilitasi, meski membutuhkan anggaran besar. Karena itu laporan resmi sangat penting,” katanya.
Di sisi lain, Agus Haris menilai banjir dan longsor di kawasan tersebut tidak terlepas dari kerusakan lingkungan akibat aktivitas galian C yang dibiarkan. Ia juga meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur turut memberi perhatian, baik melalui penindakan tegas terhadap aktivitas ilegal maupun kajian penetapan zona yang diperbolehkan untuk tambang galian C.
“Di satu sisi masyarakat membutuhkan material untuk pembangunan. Tapi di sisi lain, dampak lingkungannya harus dikendalikan dan dijadikan pertimbangan,” pungkasnya.(*)
Follow dan Simak Berita Menarik Timur Media Lainnya di Google News >>
