TIMUR. Kebijakan penambahan kegiatan Bimbingan Belajar (Bimbel) bagi siswa kelas VI di SD Negeri 001 Bontang Utara, Bontang Kuala, memicu perdebatan di kalangan wali murid. Program yang mulai diberlakukan pada Januari 2026 tersebut, disertai biaya kontribusi yang dinilai sebagian orang tua sebagai bentuk pungutan.
Salah seorang wali murid mengungkapkan bahwa orang tua siswa diminta membayar sebesar Rp287 ribu per anak untuk membiayai Bimbel tambahan sebagai persiapan menghadapi ujian akhir sekolah. Kegiatan tersebut ditujukan khusus bagi peserta didik kelas VI yang akan mengikuti Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang dilaksanakan secara terpusat dan berbasis daring.
Menurut wali murid tersebut, keputusan pelaksanaan Bimbel beserta pembiayaannya disepakati dalam rapat Komite Kelas. Mayoritas wali murid menyatakan setuju, meskipun ada sebagian kecil yang merasa keberatan namun tidak dapat menyampaikan penolakan secara terbuka.
“Saya hadir rapat. Mayoritas setuju. Nilainya memang tidak besar, Rp287 ribu untuk semua sesi Bimbel. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa harus ada pembayaran,” ujar wali murid yang enggan disebutkan namanya.
Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas Kepala SD Negeri 001 Bontang Utara, Langgeng Suprantoro, menegaskan bahwa inisiatif Bimbel bukan berasal dari pihak sekolah, melainkan murni usulan Komite Kelas yang merupakan perwakilan wali murid.
“Bukan dari kami inisiatifnya. Ini murni dari wali murid. Mereka mengusulkan adanya tambahan pembelajaran untuk kelas VI. Soal biaya pun tidak ada paksaan dan bisa dicicil, sekitar Rp20 ribu per minggu,” jelas Langgeng.
Ia menambahkan, untuk menghindari anggapan pungutan liar, Komite Kelas bahkan secara sukarela membuat surat pernyataan yang menyebutkan bahwa wali murid tidak merasa keberatan dengan adanya biaya tambahan selama pelaksanaan Bimbel.
Langgeng menyebutkan, tambahan pembelajaran tersebut dinilai penting mengingat pola ujian pada 2026 sudah berbasis digital dan membutuhkan pembiasaan serta pendalaman materi yang lebih intensif.
“Orang tua menitipkan anaknya kepada kami agar dibimbing secara sistematis menghadapi ujian. Kalau hanya mengandalkan jam belajar reguler, dikhawatirkan tidak terkejar,” pungkasnya.(*)
Follow dan Simak Berita Menarik Timur Media Lainnya di Google News >>






