TIMUR. Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris meminta PT PLN (Persero) memperbaiki pola komunikasi kepada masyarakat terkait pemadaman listrik bergilir yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Menurutnya, informasi yang disampaikan PLN sejauh ini belum memberikan penjelasan secara utuh mengenai kondisi kelistrikan yang dihadapi masyarakat.
Selain persoalan informasi, Agus juga mendorong PLN menyiapkan langkah alternatif untuk menjaga pasokan listrik, terutama ketika terjadi gangguan pada sistem interkoneksi Mahakam yang berdampak terhadap keandalan listrik di Bontang.
Agus menilai, kondisi tersebut seharusnya dapat diantisipasi dengan mengoptimalkan sumber pasokan listrik yang tersedia di daerah. Ia menyebut terdapat sejumlah perusahaan pembangkit yang memiliki kapasitas untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik, termasuk saat beban puncak.
Bahkan, menurut Agus, daya yang tersedia dari sejumlah sumber tersebut mencapai sekitar 36 Megawatt (MW). Potensi itu, kata dia, semestinya dapat dikaji PLN sebagai salah satu opsi untuk mengurangi dampak pemadaman terhadap masyarakat.
Salah satu alternatif yang disebutnya adalah PT Kaltim Daya Mandiri (KDM), perusahaan yang selama ini memasok kebutuhan listrik bagi sektor industri. Agus mendorong adanya skema kerja sama agar sebagian pasokan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat ketika sistem utama mengalami gangguan.
Selain KDM, Agus juga menyoroti keberadaan PT Graha Power Kaltim (GPK). Perusahaan tersebut memiliki kapasitas pembangkit sebesar 2×100 MW yang menurutnya dapat menjadi salah satu sumber yang perlu dipertimbangkan dalam menjaga keandalan pasokan listrik di Bontang.
“Kalau memang ada sumber daya yang bisa dimanfaatkan, harusnya itu menjadi alternatif ketika terjadi gangguan. Jangan sampai masyarakat terus menjadi pihak yang menanggung dampak,” ujar Agus.
Menurutnya, PLN juga memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Kanaan yang dapat memproduksi pasokan listrik untuk kebutuhan dasar masyarakat. Keberadaan sejumlah sumber daya tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari solusi ketika sistem interkoneksi Mahakam mengalami persoalan.
Agus secara khusus meminta PLN tidak hanya mengandalkan sistem utama tanpa menyiapkan skenario pasokan alternatif. Ia menilai gangguan pada sistem interkoneksi semestinya diikuti dengan langkah mitigasi agar pemadaman dapat diminimalkan.
“Saat terjadi masalah di Interkoneksi Mahakam, harusnya PLN bisa mengambil alternatif pasokan daya. Jadi tidak lagi ada alasan pemadaman bergilir,” tegasnya.
Agus juga mengkritik komunikasi PLN kepada masyarakat. Menurut dia, kondisi gangguan kelistrikan memang perlu disampaikan secara terbuka, tetapi informasi tersebut harus lengkap dan mudah dipahami sehingga masyarakat mengetahui penyebab, wilayah terdampak, serta langkah yang dilakukan untuk memulihkan sistem.
Ia meminta PLN tidak hanya memberikan informasi secara umum mengenai gangguan pembangkit tanpa menjelaskan upaya konkret yang dilakukan untuk menjaga kebutuhan pelanggan.
Agus mengingatkan bahwa masyarakat merupakan pelanggan yang membayar listrik untuk mendapatkan pelayanan kelistrikan. Karena itu, kualitas pelayanan dan keandalan pasokan menjadi bagian penting yang harus diperhatikan PLN.
“Warga ini bayar dulu loh baru pakai listrik. Masa uang itu harus kembali dengan pelayanan buruk seperti listrik padam bergiliran,” ujarnya.
Pemadaman bergilir di Bontang sebelumnya dijelaskan PLN sebagai dampak dari gangguan pada sejumlah pembangkit listrik yang terjadi secara bersamaan sepanjang September 2026.
Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PLN UID KaltimTara, Muchamad Meiryandi, menyebut terdapat empat pembangkit yang mengalami kerusakan, yakni PLTU Cahaya Fajar Kaltim di Kutai Kartanegara, PLTU Kaltim Prima Coal di Kutai Timur, PLTU Teluk Balikpapan, serta PLTMG Bangkanai.
Gangguan pada sejumlah pembangkit tersebut kemudian memengaruhi sistem kelistrikan yang terhubung melalui interkoneksi Mahakam. Bontang menjadi salah satu daerah yang ikut merasakan dampaknya karena berada dalam jaringan interkoneksi tersebut.
PLN menyatakan tengah berkoordinasi dengan pengelola pembangkit untuk mempercepat proses pemulihan sekaligus menambah pasokan daya ke dalam sistem kelistrikan.
“Seluruh Kaltim terkena dampak. Kami berkoordinasi dengan pengelola pembangkit untuk mempercepat proses pemulihan dan menambah pasokan daya ke sistem,” kata Meiryandi dalam keterangannya.
Perbaikan sejumlah pembangkit tersebut ditargetkan selesai pada akhir September 2026. Dengan target tersebut, masyarakat masih berpotensi mengalami pemadaman bergilir hingga proses pemulihan sistem kelistrikan rampung.(*)
Follow dan Simak Berita Menarik Timur Media Lainnya di Google News >>
