Pesut Mahakam Kian Terancam, YK-RASI Usul Pembentukan Kawasan Konservasi Perairan

  • Whatsapp

TIMUR. Belakangan ini, pesut mahakam lebih sering muncul di kawasan Kutai Kartanegara (Kukar). Meski begitu, tetap tidak mudah melihatnya karena populasinya makin berkurang. Saat ini diperkirakan hanya ada 80 ekor.

Read More

Melansir kaltim.prokal.co, Co-Founder Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (YK-RASI) Danielle Kreb mengatakan, pesut mahakam jadi satwa yang terancam, baik langsung maupun tidak langsung.

Ancaman langsungnya, pesut bisa terperangkap di rengge atau nelayan yang mencari ikan dengan setrum. Sedangkan ancaman tak langsung adalah ancaman ekosistem di sungai.

Polusi air sungai menjadi ancaman. Baik polusi karena limbah rumah tangga hingga limbah perusahaan. Apalagi, lalu lalang kapal ponton di sungai tempat pesut mahakam tinggal berisiko. Sebab, hewan ini memanfaatkan gelombang sonar untuk melihat.

Ikan itu bisa terganggu dengan keberadaan kapal ponton. Maka, pesut pun saat ini banyak ke sungai kecil atau pinggir rawa. Selain itu, tak sedikit perusahaan tambang dan perkebunan sawit yang membuang limbahnya ke saluran yang terhubung ke sungai.

Jadi, kandungan logam berat pada air sungai cukup tinggi. Pada survei kualitas air 2017 hingga 2018, yang dilakukan RASI, hasil dari uji kualitas air menunjukkan bahwa beberapa anak sungai memiliki konsentrat tinggi dari logam berat yang sangat berbahaya untuk kesehatan masyarakat maupun pesut.

Seperti kadmium dan timbal yang melampaui baku mutu hingga 23 kali dan merupakan kasus yang terparah. Kondisi pencemaran di habitat inti pesut di anak Sungai Kedang Rantau dan Kedang Kepala, serta habitat musiman pesut di Sungai Kedang Pahu sangat mengkhawatirkan.

Pasalnya, pencemaran logam berat sangat membahayakan kesehatan pesut dan manusia yang makan ikan dari sungai tersebut. Jika polusi ini mengancam ikan-ikan kecil, pesut mahakam juga terancam.

Diungkapkan Danielle, kematian pesut paling parah terjadi pada 2018. Saat itu, 10 pesut mati. Bersamaan dengan itu, banyak pula ikan baung mati.

“Berarti, kemungkinan pencemaran air saat itu cukup gawat. Kan pesut makan ikan-ikan kecil, kalau ikannya tercemar, ya berdampak pada pesut mahakam juga,” kata Danielle.

Sedangkan dari awal hingga awal November 2019 ini, sudah ada empat pesut mati. Penyebabnya beberapa terjerat jaring alias rengge. Melihat kondisi pesut mahakam yang kian mengkhawatirkan, pihaknya pun mengajukan pembentukan Kawasan Konservasi Perairan (KKP).

Kawasan ini melingkupi empat kecamatan, yakni Kota Bangun, Muara Wis, Muara Kaman, dan Muara Muntai. Di dalamnya, ada 27 desa. “Saat ini proses pengajuan sudah di bagian hukum Pemkab Kukar. Waktu zaman Bupati Rita, beliau sudah menanggapi dengan positif rencana ini, tinggal menindaklanjuti. Setelah rekomendasi dari bupati nanti, kami ajukan ke kementerian,” sambung Danielle.

Kawasan konservasi yang diajukan, disebut Danielle bakal jadi konservasi perairan tawar pertama di Indonesia. Sebab, selama ini konservasi perairan laut. Dia berharap, konservasi kawasan ini bisa segera diterapkan. Sehingga, pesut bisa dilindungi dan bermanfaat bagi nelayan di sekitarnya.

“Jika aturan berlaku, pencemaran berkurang, ikan makin banyak, nelayan bisa dapat ikan banyak. Ancaman pesut mahakam juga berkurang,” pungkasnya. (*)

Related posts