Angka Kematian Ibu Melahirkan di Indonesia Masih Tinggi

  • Whatsapp

TIMUR – Angka kematian ibu (AKI) tinggi, toleransi anak soal HIV/AIDS atau informasi seksual masih sangat rendah, dan cakupan program Keluarga Berencana (KB) mundur. Setidaknya itulah masalah kesehatan reproduksi yang terangkum di Indonesia.

Read More

Masalah itu jadi bahasan Konferensi Internasional Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (ICIFPRH), dihadiri sejumlah pakar dari dalam dan luar negeri di Hotel Sahid Yogyakarta.

Konferensi dihadiri lebih dari 800 pertisipan, diselenggarakan sebagai kemitraan dengan Kementerian Kesehatan serta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

“Hingga tahun 2018/2019 AKI Indonesia masih tetap tinggi di 305 per 1000 kelahiran hidup,” ungkap Meiwita Budhiharsana dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Ketua Komite Ilmiah ICIFPRH.

Menurut Budhiharsana, akar masalah tingginya angka kematian ibu bermula dari rendahnya pendidikan seks kepada anak. Akibatnya, mereka tidak paham bahwa aktivitas seksual dan reproduksi pun butuh perencanaan matang.

Pada kesempatan yang sama, Siswanto Agus Wilopo dari Pusat Kesehatan Reproduksi Universitas Gajah Mada menambahkan, AKI tinggi dapat disebabkan oleh perencanaan kehamilan yang kurang matang, sehingga perempuan melahirkan terlalu banyak, terlalu dekat, terlalu muda, atau terlalu tua.

“Sekarang, program KB kita ini mundur seperti tahun 1991,” kata dia.

Program KB Indonesia pernah mengalami masa keemasan dari dekade 70-an hingga tahun 2001. Tapi saat sistem desentralisasi diterapkan di tahun 2001, program ini mengalami kemunduran.

Pengguna kontrasepsi (CPR) pernah mencapai persentase hingga 60 persen, angka kelahiran total (TFR) juga pernah turun dari 5,2 menjadi 2,6 per perempuan. Tapi jumlah tersebut menjadi stagnan hingga hampir dua dekade.

ICIFPRH digagas oleh Konsorsium Juara Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi di Indonesia yang terdiri dari UNFPA, Rutgers Indonesia, Johns Hopkins Center for Communication Program (JHCCP), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pusat Kesehatan Reproduksi UGM, ThinkWell, Yayasan Cipta, Yayasan Kesehatan Perempuan, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), dan Lembaga Demografi UI. (*)

Related posts