Pupuk Kaltim Ajak Warga Bufferzone Cegah HIV/AIDS dan IMS

  • Whatsapp

TIMUR – Tingginya angka penderita HIV/Aids dan Infeksi Menular Seksual (IMS) dari tahun ke tahun, menjadi keprihatinan Pupuk Kaltim dengan terus berupaya mengantisipasi penyebaran virus mematikan tersebut, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri.

Read More

Hal itu menjadi salah satu fokus Pupuk Kaltim pada peringatan Bulan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Nasional tahun 2019, melalui sosialisasi pencegahan HIV/Aids dan IMS bagi puluhan ibu rumah tangga dan Ketua RT, di Gedung Serbaguna Kelurahan Guntung Kecamatan Bontang Utara. Selasa (15/1) pagi.

General Manager Umum Pupuk Kaltim Nur Sahid, pada kesempatan itu mengatakan, upaya pencegahan HIV/Aids dan IMS perlu disosialisasikan secara intensif, agar masyarakat dapat memahami bahaya dan faktor risiko yang bisa terjadi akibat dua penyakit tersebut. Agar lebih terdorong menerapkan perilaku hidup sehat dengan berbagai upaya pengendalian, guna mewujudkan target Three Zero tahun 2030.

“Diantaranya tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, tidak ada lagi kematian akibat Aids, serta tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/Aids (ODHA),” ujar Nur Sahid.

Berdasarkan data World Health Organisation (WHO) tahun 2017, jumlah kasus HIV di Asia Tenggara kata Nur Sahid, menempati posisi 2 di dunia setelah Afrika. Khusus Indonesia, kasus HIV terjadi di 407 Kabupaten/kota dari seluruh Provinsi, dengan jumlah kumulatif infeksi HIV mencapai 242.699 orang dan AIDS 87.453 penderita.

Sementara data IMS Kementerian Kesehatan RI hingga Maret 2017, kumulatif penderita kasus duh tubuh uretra mencapai 12.991 orang, dan ulkus genital 1.991 orang. Diluar kasus IMS akibat hubungan seksual yang tidak sehat sebanyak 1.689 orang.

“Eratnya kaitan HIV/Aids dengan IMS, butuh kesadaran bersama untuk memerangi penyakit tersebut. Salah satunya dengan memelihara kesehatan seksual sejak dini,” tandasnya.

Dari seluruh penderita, persentase kumulatif kasus Aids tertinggi menjangkit usia produktif 20-29 tahun. Dengan tingkat kasuistik pada laki laki mencapai 56 persen, perempuan 32 persen, dan tanpa laporan jenis kelamin 12 persen.

Sedangkan faktor risiko terbanyak dari heteroseksual mencapai 68 persen, pengguna narkoba suntik 11 persen, serta homoseksual 4 persen, dan penularan saat persalinan 3 persen. Dengan tingkat profesi penderita Aids tertinggi adalah ibu rumah tangga, diikuti tenaga non profesional/karyawan, hingga anak sekolah atau mahasiswa.

Maka dari itu, penting kiranya ibu rumah tangga memahami potensi penularan HIV/Aids maupun IMS, agar dapat mencegah terjadinya penularan pada diri dan keluarga. Begitu pula dengan anak, bisa mendapat perhatian lebih orangtua agar terhindar dari seks bebas akibat pergaulan yang tidak terkontrol.

“Semoga dengan sosialisasi ini masyarakat lebih mengerti bahaya dua penyakit tersebut, dan bisa berperilaku seksual secara sehat. Mari bersama kita perangi penyakitnya, tanpa mendiskriminasi penderitanya,” harap Nur Sahid.

Sosialisasi dan pencegahan HIV/AIDS dan IMS dalam rangka peringatan Bulan K3 Pupuk Kaltim 2019 (Foto: Humas Pupuk Kaltim)

Kegiatan ini pun diapresiasi Pemerintah Kota Bontang melalui Lurah Guntung Ida Idris. Menurut dia, kegiatan ini sangat penting guna mengedukasi masyarakat akan bahaya penyebaran HIV/Aids dan IMS, khususnya ibu rumah tangga dan remaja. Sehingga dapat lebih mawas diri dengan menerapkan perilaku hidup sehat sejak dini.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Pupuk Kaltim, yang terus mengedukasi sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih peduli kesehatan, khususnya ibu rumah tangga dan remaja. Kegiatan ini sangat penting, karena masih banyak masyarakat yang awam dengan berbagai penyakit menular tersebut,” papar Ida.

Sosialisasi terbagi dua sesi, dengan pemateri dr Dwiyanti dari Puskesmas Bontang Utara 2, dan dr Zukhrida Ari Fitriani dari Hiperkes Pupuk Kaltim.

Disampaikan dr Dwiyanti, IMS diakibatkan bakteri akibat hubungan seksual yang tidak sehat, dapat menyebar melalui darah maupun cairan tubuh lainnya. Bahkan penyebaran tanpa hubungan seksual juga bisa terjadi dari seorang ibu kepada bayi, baik saat mengandung atau ketika melahirkan. Termasuk pemakaian jarum suntik secara berulang atau bergantian di antara beberapa orang juga berisiko menularkan infeksi.

Beberapa penyakit menular seksual akibat bakteri diantaranya sifilis, gonore, chlamydia, chancroid, granuloma inguinale, dan lymphogranuloma venereum. (ikr/ads)

Related posts