TIMUR. Seekor pesut mahakam [Orcaella brevirostris], ditemukan mati di perairan Sungai Mahakam, Kutai Kartanegara [Kukar], Kalimantan Timur. Tepatnya, di perairan hulu Kota Bangun, 25 Oktober 2019.

Penyebab kematian Pepi, nama pesut itu, belum teridentifikasi pasti. Namun, tim dari BKSDA Kaltim dan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia [RASI] menemukan gumpalan nilon, seperti bekas jaring, tersangkut di tenggorokannya.

Melansir Mongabay.co.id, Kepala BKSDA Kaltim Sunandar, mengatakan kematian Pepi adalah kabar duka. Selama ini, pihaknya selalu berusaha menjaga pesut dan habitatnya. BKSDA juga menggandeng sejumlah yayasan konservasi perlindungan pesut, bahu-membahu melestarikan mamalia yang dianggap keramat oleh Suku Kutai itu.

“Kematian pesut adalah kabar yang tidak enak didengar. Jumlahnya yang terus menurun membuat kita khawatir. BKSDA tidak bekerja sendiri, banyak bantuan dari yayasan konservasi guna melestariakan pesut dan habitatnya,” katanya, Rabu (30/10/2019)

Penyebab kematian Pepi, kata Sunandar, masih diteliti mendalam. Pihaknya harus memeriksa bangkai itu secara intensif. Sehingga, ada antisipasi kedepannya untuk semua kehidupan pesut.

“Penting mencari sebab kematian ini. Tugas kita adalah melestarikan dan menjaga jumlahnya bertambah, bukan berkurang,” jelasnya.

Peneliti pesut dari Rasi, Danielle Kreb, mengatakan, Pepi merupakan pesut ke empat yang mati sepanjang 2019 di hulu Sungai Mahakam. Pepi sempat diperiksa Tim BKSDA dan Jaringan RASI Lokal, Darwis Jaya Putra. Berdasarkan tanda sirip punggung bangkai, memang dikenali bahwa pesut tersebut Pepi.

“Masing-masing pesut memiliki ciri khas, berdasarkan foto dan ciri-ciri tubuhnya, dipastikan adalah Pepi,” tandasnya.

Dari catatan RASI, Pepi merupakan jantan dewasa. Menurut Danielle, selama hidup sampai pada kematiannya, Pepi lebih banyak ditemukan dalam kelompok besar, bersama pesut betina untuk berkembang biak. Danielle memastikan, Pepi memiliki banyak keturunan.

“Area favoritnya belakangan ini di Belayan dan Sungai Kedang Rantau,” jelasnya.

Pepi adalah pesut yang termasuk akrab dengan manusia. Beberapa kali kehadirannya terpantau di Hulu Mahakam. Untuk menghormati kematiannya, RASI sengaja tidak mengunggah kematiannya. Namun, mengabadikan foto-foto semasa hidup dan bermain di air.

“Kami tidak ingin menunjukkan gambarnya, menjaga memori Pepi selalu hidup,” ujarnya

Habitat Mulai Mengkhawatirkan

Sebagai peneliti, Danielle menegaskan populasi pesut di Sungai Mahakam hingga ke pedalaman terus berkurang. Penelitian yang dilakukan RASI pada 2018 hingga Mei 2019, menunjukkan ada 81 individu.

Kematian yang belakangan terjadi, diduga berkaitan dengan habitat yang tidak aman lagi. “Kondisi yang sangat mempengaruhi jumlah dan berakibat terancam punah,” terangnya.

Terkait masalah habitat di Sungai Mahakam terutama daerah hulu, Danielle mengatakan, limbah dan sampah menjadi faktor utama dalam pencemaran di Sungai Mahakam dan sejumlah anak sungainya yang merupakan habitat pesut.

Tidak hanya itu, kendaraan logam berat seperti ponton dan kapal penarik batubara, ikut mempengaruhi kualitas air. Danielle menyebut, pesut-pesut kesulitan mencari makan dengan kondisi itu. Kapal terkadang juga melintasi sisi-sisi sungai, padahal lokasi tersebut habitat pesut mahakam.

“Tiga bulan sekali RASI mengambil sampel air di habitat pesut. Kulitasnya semakin buruk. Hal ini mengkhawatirkan, karena menyulitkan pesut mencari makan dan bermain. Ruang jelajah menyempit karena kapal-kapal melintas,” sebutnya.

Danielle juga menyinggung sampah rumah tangga yang juga menyebabkan pencemaran. Dia mengatakan, pihaknya telah menggalakkan program buang sampah pada tempatnya. Sebanyak 500 tong sampah besi diberikan untuk warga di hulu Mahakam, terutama yang rumahnya di atas air atau rakit.

“Sosialisasi dan pembagian tong sampah terus dilakukan. Kita berharap warga tidak lagi buang sampah ke sungai. Jangan sampai ada pesut mati akibat makan sampah plastik, harus dihindari,” tandasnya.

Pesut mahakam [Orcaella brevirostris] adalah lumba-lumba air tawar yang merupakan simbol Provinsi Kalimantan Timur. Habitatnya di Sungai Mahakam. Ukuran tubuh pesut dewasa, panjangnya hingga 2,3 meter dengan berat mencapai 130 kg. Tubuhnya abu-abu atau kelabu dengan bagian bawah lebih pucat.

Badan Konservasi International IUCN menetapkan statusnya Genting [Endangered/EN]. Penurunan habitat, polusi suara dari frekuensi tinggi kapal yang melintas, industri, sampah hingga jaring adalah ancaman kehidupan yang dihadapi pesut saat ini.

Rencana zonasi habitat pesut di Kutai Kartanegara [Kukar], Kalimantan Timur, yang diusulkan Yayasan RASI [Rare Aquatic Species of Indonesia] adalah harapan utama lestarinya Irrawady Dolphin di masa mendatang.(*)