TIMUR. Debat publik Putaran kedua antar pasangan calon (Paslon) Walikota dan wakil Walikota Bontang tahun 2020, Kalimantan Timur, di Hotel Mercure, Rabu (18/11/20) malam.

Debat berlangsung dengan memperhatikan protokol kesehatan, dipandu Said Husein sebagai moderator. Tiga subtema yang diangkat diantaranya, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, menyelesaikan persoalan daerah, dan menyerasikan pelaksanaan pembangunan Daerah, Kota dan Provinsi dengan Nasional.

Terlihat pasangan nomor urut 01 Basri Rase dan Najirah, kompak setelan baju serba putih dan hitam, dan jilbab merah maron yang dikenakan oleh wakil Walikota Najirah. Pun sama dengan Paslon nomor urut 02 Neni Moerniani dan Joni Muslim mengenakan setelan serba putih dan hitam. Untuk Neni, dipadukan dengan jilbab kuning.

Segmen pertama penajaman visi dan misi Paslon Walikota dan Wakil walikota Bontang, tentang realisasi program kerja penanganan Covid 19 dalam ruang terbatas.

Pasangan nomor urut 01 Basri Rase dan Najirah berjanji akan serius menangani masalah ini dengan baik. Ia menyebutkan masalah Covid yang sampai saat ini belum terselesaikan dikarenakan tidak adanya alat pengetesan yang dimiliki dalam menangani Covid-19.

“Bontang penyumbang Corona terbesar di Kalimantan Timur, padahal jumlahnya sedikit, tapi kita yang paling banyak,” ujar Basri Rase.

Terkait masalah tersebut menurutnya ia akan tetap melakukan 3M, diantaranya, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan juga penerapan 3T, yaitu, testing, tresting dan treatment,

Selain ia pun akan konsisten melalu program kerjanya diantaranya pemberian dana stimulan RT, pemberdayaan masyarakat dan generasi milenial.

Sementara Pasangan Calon nomor urut 2 Neni Moerniaeni dan Joni Muslim berkomitmen menjaga lingkungan. Pihaknya pun akan menindak tegas setiap pelanggar aturan yang bertentangan dengan Perda RTRW Kota Bontang.

Tata ruang pemukiman yang tidak sesuai dengan tata ruang. Pemkot Bontang dengan dinas terkait, pihaknya akan meningkatkan gerakan menanam pohon dan memelihara pohon mangrove. Guna menahan genangan masuk di kawasan pemukiman.

Keduanya bersepakat, sebagai salah satu upaya Bontang menjaga kelestarian lingkungan alam, semua pihak harus dilibatkan. Neni menyebut tata ruang kota dan permukiman telah diatur dalam Perda Nomor 13 Tahun 2019 Tentang RTRW Kota Bontang. Menurutnya, jika bangunan tak sesuai dengan tata ruang, artinya tidak memiliki izin.

“Kami akan menginventarisir rumah atau bangunan yang tidak sesuai dengan peruntukannya,” tegasnya.

Neni mengatakan tidak memungkinkan untuk membongkar rumah yang sudah terbangun, sehingga upaya menggantikan lahan gambut untuk daerah resapan yakni dengan penanaman pohon. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak membangun rumah di daerah resapan air.

“Akan ditanami pohon, tanam mangrove,” ujarnya.

Upaya lain Neni-Joni menjaga kelestarian lingkungan dengan membangun ruang terbuka hijau. Dari target 30 persen, saat ini sekira 22 persen ruang terbuka hijau sudah terpenuhi.

Tenaga Kerja dan Investasi

Pasangan nomor urut 1 Basri Rase-Najirah memastikan penegakkan Perda Tenaga Kerja dilakukan tanpa tebang pilih. Basri berjanji investasi akan ramah terhadap pekerja lokal. Pihaknya pun memastikan akan memberi kenyamanan bagi investor saat menanam modal mereka di Bontang.

“Perda itu harus ditegakkan bukan untuk dimainkan,” ujar Basri.

Ia menambahkan, tingkat pengangguran di Bontang tinggi padahal jumlah penduduknya kecil. Seharusnya ini menjadi evaluasi bagi pemerintah. Investor harus berkomitmen untuk memberdayakan tenaga kerja lokal.

“Ada kesepakatan antara investor dan pemerintah yakni harus berani keluar jika tidak patuh terhadap Perda Bontang,” ujarnya.

Sedangkan Calon Walikota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan, angka pengangguran di Bontang merupakan warisan pemerintahan terdahulu. Tetapi, pihaknya sudah melakukan antisipasi dengan mengeluarkan Peraturan Daerah.

Neni meyakini, status Bontang sebagai Kota industri akan memancing orang untuk mencari kerja di Bontang. Dia juga menegaskan bahwa, setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen, maka angka pengangguran akan berkurang sebanyak 400 orang.

Saat ini, sudah berjalan beberapa proyek besar. Ada pabrik pengolahan kelapa sawit dan pembangkit listrik tenaga uap. Di dua lokasi itu, 75 persen adalah tenaga kerja lokal.

Neni menjelaskan, saat ini sebanyak 80 persen kawasan kota Bontang adalah kawasan perusahaan dan industri. Nah, dengan komposisi itu, perusahaan harus berkomitmen dengan perda tenaga kerja yang sudah dibuat. Dan saat ini perusahan sudah mematuhi Perda.

“Masih ada juga saat ini proyek pembangunan Bontang City Mall, penyerapan tenaga kerja lokal untuk pembangunan mal tersebut cukup tinggi. Ini pasti mengurangi angka pengangguran,” kata Neni.

Penanganan Banjir

Bila dipercaya memimpin Bontang, Basri Rase-Najirah berjanji akan menuntaskan permasalahan banjir di tiga tahun pertama. Menurut mereka, permasalahan banjir akan meruntuhkan ekonomi mikro bila dibiarkan berlanjut.

“Masyarakat kecil yang merasakan dampak langsungnya,” kata Basri, menjelaskan.

Basri menyebutkan, program pengendalian banjir tidak bisa sukses bila hanya fokus pada normalisasi. Hal utama yang harus dilakukan adalah melakukan pengerukan sungai Bontang dan membangun folder.

“Yang tidak kalah penting adalah merevitalisasi danau Kanaan yang selama ini terabaikan,” katanya.

Di samping itu, ia menyebutkan beberapa daerah yang menjadi langgana banjir diantaranya Pisangan, Tanjung Laut, Guntung Telihan dan Kanaan.

“Ini komitmen saya dan ibu. Tiga tahun pertama kami menjabat, permasalahan banjir menjadi program kami yang paling prioritas. Karena, kami menyadari bahwa korban dari banjir berlarut adalah masyarakat kecil,” kata Basri Rase.

Sementara pasangan Neni Moerniaeni dan Joni mendorong agar pembangunan bendungan Suka Rahmat segera terealisasi. Banjir di Bontang merupakan kiriman dari Kutim dan Kukar, seperti yang terjadi pada 2018 lalu.

Untuk itu, kedepan akan mengintegrasikan program penanggulangan banjir dengan provinsi dan pusat.

“Banjir bisa memporak-porandakan dan memberikan penyakit yang luar biasa kepada masyarakat,” ujar Neni.

Dalam kepemimpinannya, Neni mengaku program penanggulangan banjir di Guntung diklaim sudah lebih baik. Sungai Kelurahan Guntung dilakukan pemasangan drainase, dan saat ini tidak separah tahun 208 lalu.

Komitmennya mengintegrasikan penanggulangan banjir dengan program provinsi melalui APBD tingkat 1 hingga Nasional. Joni menambahkan, akan memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah di parit, serta program jumat bersih.(*)