TIMUR – Hamparan petak sawah siap tanam membentang luas sejauh pandangan. Dari kejauhan 6 pemuda tampak asik bercengkerama di atas pondok berbahan kayu tanpa penyekat dinding. Mereka baru saja menanam benih padi, kaki berlumpur terlihat mulai mengering.

Salah seorang dari mereka bergegas memberi komando agar kembali menanam benih sebelum layu terjemur matahari. “Ayo… kerja lagi. Nanti matahari semakin tinggi,” seru pemuda bertelanjang dada yang terlihat begitu bersemangat, ingin selekasnya merampungkan pekerjaan menanam benih padi hari itu.

Satu dari enam pemuda desa itu adalah Basri Rase muda, Wakil Walikota Bontang terpilih periode 2016-2021. Lahir dari keluarga petani di Desa Macoppe, Bone Sulawesi Selatan, Basri kecil menyatu dengan kehidupan orang-orang sawah. Saban hari, Basri muda membantu kakeknya, Almarhum Leko membajak, menanam lalu menuai padi dan sesekali menggembala ternak. Tak ada keluhan apalagi protes, hari-hari Basri diisi dengan keriangan pemuda desa.

Berpuluh tahun kemudian, kultur petani yang sabar dan tak kenal menyerah mengantarkan Basri Rase menduduki kursi terhormat, wakil walikota Bontang. Melaju lewat jalur independen bersama Neni Moerniaeni, pasangan Nebas (Neni-Basri) sukses mendulang kemenangan dengan raihan suara di atas 50 persen, melampui pasangan petahana. “Hidup saya mengalir saja. Kuncinya sederhana, kita harus optimis menghadapi setiap tantangan. Itu yang diajarkan almarhamum kakek saya,” ujar Basri Rase.

Basri kecil tumbuh di pelosok desa, berjarak 20 kilometer dari pusat kota Bone. Di Desa Macoppe, Basri kecil dibesarkan oleh sang kakek , Almarhum Leko dan Haji Jawariah. Kedua orangtuanya bercocok tanam cengkeh di Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Bersama sang kakak Rosmini, ia digembleng untuk menghargai setiap butir nasi yang dihasilkan melalui keringatnya sendiri. Sementara, dua adiknya hidup terpisah,
mereka tinggal bersama orangtua. Basri kecil adalah petani, bahkan hingga menginjak remaja, sebelum akhirnya memutuskan mengadu nasib ke Kalimantan Timur.

“Beruntung sekali kalau tiap satu tahun bisa ketemu (keluarga),” ungkap Basri yang masih tetap sederhana, mengenakan celana pendek duduk santai di gazebo mini depan rumahnya.

Prev1 of 5