TIMUR. Jarum jam dinding masih menunjukkan pukul 05.00 pagi. Ayam jantan sudah berkokok saut menyaut. Saban (43) sudah siap-siap menuju laut. Kaus oblong lusuh lengkap dengan celana kain sudah ia kenakan, menanggalkan anak-anaknya yang masih terlelap.

Saban pria asal Kelurahan Tanjung Laut Indah ini rutin setiap pagi dan sore turun ke laut. Bukan untuk menangkap ikan, melainkan memungut sampah. Sisa-sisa manusia yang terbawa gelombang ke pesisir.

Langkah kaki Saban menapak bibir perahu. Mendayung beberapa meter. Kemudian, ‘joran’ diujungnya dipasangi jaring mulai dijulurkan ke permukaan air. Mengangkut satu-satu sampah yang mengapung.

Kebanyakan plastik. Sampah yang butuh ribuan tahun terurai. Saat karungnya penuh ia kembali ke darat. Menumpahkan isi karungnya ke bak sampah. Kerap warga kurang tertib buang sampah, hanya disimpan di sekitar bak. Tak dibuang langsung ke dalam bak sampah.

“Sering saya tegur kalau dapat, tapi biasanya saya yang masukin,” ungkap Saban kepada Klik Kaltim (Timur Grup)

Saat matahari mulai gelincir ke arah barat. Saban kembali turun ke laut. Memungut sampah dan membuangnya ke bak penampungan. Ia sebenarnya memperoleh upah dari pemerintah atas kerjanya. Tak seberapa, hanya Rp 2 juta untuk membiayai 6 anak dan istrinya.

Kerap ada sisa kardus di buang warga. Ia kumpulkan lalu dijual, sekedar penambah rupiah untuk istri di rumah.

“Kalau ada pakaian yang hanyut, juga sering saya ambil. Kalau masih bagus saya pakai,” tuturnya.

Sudah 3 tahun Saban jalani pekerjaannya. Tak bisa mengeluh, hanya profesi ini yang bisa ia jalani. Memungut sampah dari laut sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Manfaat dari peran Saban penting. Segelintir melihat profesi ini menjijikan, namun tidak bagi pria bertubuh cungkring ini.

“Sampah dari laut bisa rusak lingkungan, apalagi plastik,” ucap Saban sembari merapikan tumpukan kardus. (red)