TIMUR – Mantan Bupati Kutai Kartanegara ini memiliki kapasitas dan wawasan kepemimpinan tingkat nasional. Dia pemimpin berkarakter dan berkepribadian kuat seteguh batu karang, berprinsip pengabdian laksana lilin serta berdedikasi, integritas dan komitmen kebersamaan bak lebah.

Memiliki mata hati dan kecerdasan (intelektual, emosional dan spritual) yang prima serta visi yang besar, bening dan berani (great, clear and bold vision), jauh melebihi tantangan tugasnya sebagai bupati.

Dia cendekiawan, profesor doktor, ekonom, politisi dan birokrat yang membumi. Kaning, panggilan akrabnya, menggerakkan potensi semua komponen daerahnya, Kutai Kartanegara, dengan konsep Gerbang Dayaku yang brilian, realistis dan implementatif.

Konsepnya tentang Gerbang Dayaku berhasil mengorbitkan Kutai Kartanegara pada tingkat kemajuan spektakuler yang mengundang decak kagum berbagai kalangan, tidak hanya masyarakat daerahnya tetapi juga seantero negeri.

Di bawah kepemimpinannya, Kutai Kartanegara menebar wangi harum keberhasilan ke berbagai penjuru negeri, bukan hanya karena berita kekayaan sumber daya alamnya melainkan juga kreatifitas dan kapasitas kepemimpinan bupatinya, Prof Dr H Syaukani HR, MM. Dengan Gerbang Dayaku Tahap II, dia mencanangkan 2010 Kutai Bersinar, menuju Kutai Emas.

Pria kelahiran Tenggarong, 11 Nopember 1948 itu memiliki tiga filosofi atau prinsip hidup yang selalu diupayakan terimplementasi dalam keseharian kepemimpinannya. Pertama, hidup seperti lilin. Rela berkorban (meleleh) demi menerangi sekitarnya. Artinya, harus berani berkorban demi kepentingan yang lebih besar, berguna bagi orang lain. Meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan lain-lain demi kepentingan sesama.

Kedua, hidup seperti batu karang. Setiap saat dihantam ombak, namun tetap teguh. Tetap tenang walaupun berbagai cobaan dan tantangan menerpa. Tahan banting oleh berbagai benturan gelombang tantangan dan menjadi tempat perlindungan bagi makhluk lain dalam ekosistemnya.

Ketiga, hidup seperti lebah. Selalu kompak, menghasilkan madu, tidak mengganggu jika tidak diganggu. Prinsip kekompakan, kebersamaan dan persatuan yang menjadi kekuatan, seperti lebah. Perihal kekompakan ini, Syaukani mengutip Jenderal Sudirman yang mengatakan, kemenangan tidak mungkin dicapai tanpa adanya kekuatan.

Salah satu faktor yang menentukan kekuatan adalah kekompakan, kebersamaan dan kesatuan. Kekuatan tidak akan mungkin tercapai apabila tidak ada kekompakan, kebersamaan, dan persatuan. Prinsip ini selalu dipedomaninya dalam hidup bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara.

Masa depan Kutai, yang sebelumnya -ditawan- oleh sistem sentralistik pemerintahan serta ketidakcerdasan dan ketidakberanian pendahulunya untuk menyuarakan aspirasi masyarakat Kutai dalam visi dan misi yang jelas dan implementatif.

Ketika reformasi bergulir, dia terpilih menjabat Bupati Kukar, 14 Oktober 1999. Dia adalah bupati yang dengan cerdas dan berani mengoptimalkan peluang otonomi daerah demi mengakselerasi pembangunan daerahnya. Tantangan juga dia dapatkan ketika menguruk delta, pulau Kumala, di tengah Sungai Mahakam di Tenggarong.

Prev1 of 2