Dorong Pemulihan Ekonomi Nasional, Kemendag Gelar Pelepasan Ekspor Serentak

  • Whatsapp
Pelepasan Ekspor Serentak Kemendag di Pelabuhan Pupuk Kaltim (foto: Humas Pupuk Kaltim)

TIMUR. Presiden RI Joko Widodo melepas ekspor produk Indonesia. Ekspor serentak dilakukan di Lamongan, Jawa Timur; Boyolali, Jawa Tengah; Sunter, DKI Jakarta, dan sejumlah kota lain di 16 provinsi, Jumat (4/12/2020).

Read More

Joko Widodo melepas ekspor tersebut secara virtual dari Istana Bogor. Kegiatan bertajuk “Pelepasan Ekspor ke Pasar Global” ini terpusat di Lamongan, Jawa Timur, dan dikoordinasikan langsung oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto.

Turut hadir secara virtual tujuh Menteri Kabinet Indonesia Maju dan sembilan Gubernur dan Wakil Gubernur. Ke-16 provinsi yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, yaitu Aceh (2 perusahaan), Sumatra Utara (2 perusahaan), Sumatra Selatan (1 perusahaan), Riau (4 perusahaan), Lampung (2 perusahaan), Sulawesi Selatan (32 perusahaan), Banten (4 perusahaan), dan DKI Jakarta (6 perusahaan).

Lalu, Nusa Tenggara Barat (2 perusahaan), Bali (2 perusahaan), Papua Barat (3 perusahaan), Jawa Barat (12 perusahaan), Jawa Tengah (18 perusahaan), Daerah Istimewa Yogyakarta (5 perusahaan), Jawa Timur (31 perusahaan), serta Kalimantan Timur (7 perusahaan).

Joko Widodo menyampaikan, kunci untuk memperbaiki perekonomian nasional adalah peningkatan ekspor. Ekspor bukan hanya membantu pelaku usaha untuk tumbuh, tetapi sekaligus menghasilkan devisa dan mengurangi defisit neraca perdagangan.

“Indonesia memiliki potensi ekspor yang masih sangat besar, baik dari sisi produk, kreativitas, dan kualitas, serta volume dan tujuan ekspor. Kita tidak boleh cepat puas karena potensi pasar ekspor masih sangat besar. Pemerintah dan pelaku usaha harus dapat melihat lebih jeli pasar ekspor yang masih terbuka lebar,” ujar Joko Widodo.

Dia berharap agar kegiatan pelepasan ekspor ini menjadi momentum yang berkelanjutan dan menghasilkan ekspor yang terus meningkat. Sementara itu, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menjelaskan, kegiatan pelepasan ekspor ini diikuti 133 pelaku usaha. Baik skala besar maupun skala kecil dan menengah (UKM) yang tersebar di 16 provinsi.

“Total nilai ekspor kegiatan ini dan ekspor 133 perusahaan tersebut pada Desember 2020 yaitu sebesar USD 1,64 miliar atau setara dengan Rp23,75 triliun,” jelas Mendag Agus.

Pelepasan ekspor secara serentak ini, lanjut Agus, merupakan upaya peningkatan ekspor nonmigas sekaligus memotivasi pelaku usaha agar tetap meningkatkan ekspor. “Kegiatan ini juga menjadi langkah percepatan ekspor nonmigas di masa pandemi, termasuk pemulihan ekonomi nasional di tahun 2021,” imbuhnya.

Acara ini sekaligus menandai momentum ekspor produk-produk Indonesia pada Desember. Agus menekankan, pelepasan ekspor kali ini menjadi perhatian tersendiri karena terdapat sejumlah pelaku usaha yang mencatatkan ekspor perdana serta sejumlah pelaku usaha lainnya yang berhasil mendiversifikasi produk ekspor mereka.

Dari total 133 pelaku usaha, terdapat 54 UKM yang ikut serta dalam pelepasan ekspor serentak kali ini. Dari jumlah tersebut, 7 pelaku UKM menorehkan ekspor perdana mereka dengan produk-produk makanan olahan seperti emping belinjo, jamu herbal, mi telur, kemiri olahan, produk cengkeh; tempat tidur untuk sapi; dan lidi nipah.

Sementara itu, 11 pelaku UKM berhasil mendiversifikasi produk ekspor baru seperti karagenan, furnitur dan produk dekorasi rumah dari bahan baku yang berkelanjutan, kursi dari limbah kayu dan minyak jelantah. Agus juga mendorong pelaku UKM untuk terus berinovasi dan mengembangkan produk-produknya agar semakin banyak produk-produk UKM yang menembus pasar internasional.

“Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk terus hadir bagi para pelaku usaha UKM agar dapat meningkatkan daya saingnya sehingga semakin kompetitif di pasar global,” ujar Mendag.

Selain itu, terdapat 79 perusahaan non-UKM dalam pelepasan ekspor kali ini. Dari jumlah tersebut, terdapat 1 perusahaan yang ekspor perdana dengan produk berupa udang beku dan cerutu.
Sementara itu, 7 perusahaan berhasil mendiversifikasi produk mereka dengan mengekspor produk olahan boga bahari, pakaian wanita bersulam, serta produk konstruksi.

Sementara negara tujuan ekspor hampir mencakup seluruh belahan dunia. Ke Asia Pasifik antara lain Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Republik Rakyat Tiongkok, Taiwan, India, Bangladesh, negara-negara ASEAN, dan Timur Tengah. Ke benua Eropa antara lain negara-negara Uni Eropa, Inggris dan Georgia. Ke Amerika antara lain Amerika Serikat, Argentina, Meksiko, Brasil, Chili, Peru, Kanada, dan Uruguay. Sementara itu, ke Afrika antara lain Mesir, Kenya, Nigeria, Ghana dan Tanzania.

PELEPASAN EKSPOR DI BONTANG

Di Bontang, pelepasan ekspor dihadiri Staf Khusus Bidang Pengawasan, Perlindungan dan Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan Opik Taofik Nugraha, Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Provinsi Kalimantan Timur Yadi Robyan Noor, dan Direktur Utama PT Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi.

Pelepasan ekspor dilakukan di Pelabuhan Pupuk Kaltim dan terkoneksi dengan titik Pelabuhan Kaltim Kariangau Terminal, Pelabuhan Samarinda, dan Bandara Sepinggan serta titik pelepasan ekspor lainnya secara nasional.

Opik menyampaikan apresiasinya kepada para pelaku usaha yang berhasil melakukan ekspor di tengah pelemahan ekonomi global akibat pandemi Covid-19. “Kementerian Perdagangan mengapresiasi para pelaku usaha yang dapat terus mengekspor produk-produknya, terutama dalam kondisi pandemi Covid-19,” jelas Opik.

Pelepasan ekspor secara serentak ini, lanjut Opik, diharapkan dapat terus memotivasi para pelaku usaha, termasuk UKM untuk berinovasi agar dapat menembus pasar global. “Selalu ada peluang sekalipun di tengah kondisi sulit seperti saat ini. Kementerian Perdagangan berkomitmen membantu pelaku usaha dalam melakukan ekspor karena dapat meningkatkan kinerja ekspor dan nasional dan mendorong pemulihan ekonomi nasional,” jelas Opik.

Opik menambahkan, pelepasan ekspor diharapkan dapat menjadi upaya konkret pemerintah dalam mendukung pelaku usaha menghadapi kondisi saat ini. Hal ini bertujuan menumbuhkan ekonomi nasional pada tahun 2021 mendatang.

“UKM juga dapat “naik kelas” agar tetap mampu menggerakkan roda usahanya sehingga mampu berkontribusi dalam peningkatan ekspor nonmigas sehingga dapat mendorong kinerja neraca perdagangan dan ekonomi nasional.” tambahnya.

Sebanyak tujuh perusahaan berpartisipasi dalam pelepasan ekspor di Bontang. Dari jumlah tersebut, empat perusahaan merupakan kategori usaha kecil dan menengah (UKM), yaitu CV Tiga A Balikpapan, CV Masagenah, PT Garuda Sinar Perkasa, dan PT Syam Surya Mandiri.

Sedangkan tiga perusahaan lainnya merupakan perusahaan besar, yaitu PT Pupuk Kaltim, PT SLJ Global, dan PT Kutai Refinery Nusantara. Produk yang diekspor antara lain urea, amoniak, udang beku, plywood, RBD palm olein, dan produk perikanan, dan lidi nipah.

Nilai ekspor tersebut diperkirakan mencapai USD 660,80 juta atau Rp 9,3 triliun. Dari nilai itu, perusahan kategori UKM menyumbang USD 2,1 juta atau Rp 29,1 miliar. Negara tujuan ekspor produk-produk tersebut antara lain Korea Selatan, Jepang, Eropa, India, Australia, RRT, dan negara-negara di Eropa.

Opik juga mengungkapkan, komoditas lidi nipah tumbuh melimpah di muara sungai sehingga memiliki potensi yang menarik untuk diekspor. Selain itu, potensi hasil perikanan tangkap dan budidaya di Kaltim juga perlu didukung.

Sementara itu, Rahmad menjelaskan, Pupuk Kaltim telah mendapat apresiasi dari Kementerian Perdagangan melalui penghargaan Primaniyarta 2020 kategori Eksportir Berkinerja pada November lalu.

“Pada 2020, Pupuk Kaltim telah melakukan ekspor sebanyak 2,32 juta ton urea dan amoniak, dengan total ekspor senilai USD 556,47 juta. Pada acara ini, Pupuk Kaltim mengekspor 6.600 ton urea granul ke Korea Selatan,” kata Rahmad.

Pada periode Januari-September 2020, neraca perdagangan Kaltim tercatat surplus sebesar USD 8,19 miliar. Ekspor nonmigas Kaltim pada periode tersebut tercatat sebesar USD 8,65 miliar atau turun 20,3 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019. Negara tujuan ekspor nonmigas terbesarnya antara lain RRT (27,11 persen), India (19,37 persen), Jepang (8,14 persen), Filipina (7,89 persen), dan Malaysia (7,04 persen). (adv)

Related posts