TIMUR. PT Pertamina memutuskan untuk menghentikan sementara rencana pembangunan Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Bontang. 

Melansir kontan.co.id, Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Talullembang menjelaskan, pasca berhentinya kerjasama dengan partner, Pertamina memilih untuk menghentikan pengembangan proyek dengan nilai investasi mencapai US$ 15 miliar ini.

“Bontang sempat jalan, hanya saja partner tidak bisa lanjutkan, kita hold dulu, kita kaji, supply demand seperti apa,” tutur Ignatius saat konferensi pers, Jumat (5/6/2020).

Ia memastikan, jika nantinya segala kajian telah rampung, barulah Pertamina bakal melakukan diskusi lanjutan dengan stakeholder terkait nasib kilang tersebut. Ignatius melanjutkan, untuk saat ini Pertamina memilih untuk fokus pada sejumlah proyek Kilang yang tengah berlangsung. Antara lain, proyek Kilang Cilacap yang tengah memasuki tahapan pencarian strategic partner dan pembebasan lahan.

“Saat ini kita juga fokus ke yang sudah berjalan ini, khususnya untuk upgrading kilang-kilang eksisting,” jelas Ignatius.

Sebelumnya dalam proyek GRR Bontang, Pertamina bakal bekerjasama dengan perusahaan migas asal Oman, Overseas Oil and Gas LLC (OOG). Sayangnya kerjasama tersebut tak mencapai kata sepakat. Pertamina kemudian sempat pula menyampaikan opsi pemindahan lokasi proyek pada medio Maret 2020. Adapun, dua lokasi baru yang diproyeksikan yakni daerah Arun di Aceh dan Kuala Tanjung Sumatra Utara.

Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Heru Setyawan, pun menyebut opsi lokasi yang ada kini tengah dalam kajian perusahaan pelat merah tersebut.

“Ada rencana memindahkan Kilang Bontang, kan ada beberapa lokasi sebenarnya, Bontang, Kuala Tanjung dan Arun,” jelas Heru.

Heru menambahkan, Pertamina menilai Kuala Tanjung sebagai lokasi yang tepat jika nantinya upaya pemindahan proyek terjadi. Menurutnya, lokasi Kuala Tanjung disokong oleh ketersediaan pasar dan lahan.

“Karena (Kuala Tanjung) dekat dengan market, lahannya ada, kan di situ pasar internasional terus di Sumatra juga,” tutur Heru. (*)