Sinyal Merah Air Tanah (I)

  • Whatsapp

TIMUR Portable Computer itu masih terbuka dan menyala sore itu. Pada layarnya, tampak grafis tentang data hasil riset kondisi air tanah Bontang 3 tahun lalu. Ya, di PC milik Dr. Edwin Halim, ST, MT, itulah tersimpan beribu data dan angka tentang kondisi air tanah Bontang, Kalimantan Timur.

Read More

Data tersebut merupakan hasil kajian LAPI ITB dan Pemetintah Kota Bontang pada 2013 lalu. Dr. Edwin Halim, ST, MT, pakar manajemen air Kaltim, menyebutkan sudah selayaknya Bontang melirik daerah lain untuk penyediaan air baku.

Pasalnya, kondisi ketersediaan air baku di Kota Taman sudah kritis. Eksploitasi air bawah tanah secara massif tak hanya memicu degradasi lingkungan, tapi juga bisa memicu bencana serius, yakni Kota Bontang bisa amblas.

Bontang menjadi satu di antara dua daerah di Kaltim yang tengah dalam kondisi kritis air baku. Satu lagi, ya pintu gerbang Kaltim, Balikpapan. Saat ini, Balikpapan tengah putar ide menyelesaikan kekeringan sumber air di Manggar. Nasib serupa terjadi di kabupaten/kota pecahan Kaltim.

Edwin merilis, Kota Tarakan dan Nunukan di Provinsi Kaltara, dibelit masalah ketersedian air baku. Bedanya, Tarakan dan Nunukan terpisah pulau. Sementara Bontang dan Balikpapan, masih berada pada daratan pulau Borneo nan luas itu.

Untuk soal air baku di Bontang, Edwin tak ngecap. “Dampak pengambilan air tanah Bontang itu sudah merah,” ujar Doktor nuklir lulusan Teknik,Program Study Nuclear Technology, Melbourne University, Australia (lulus 2014) ini saat ditemui Timur.

Prev1 of 3

Related posts