Tak Memudar, Asa Sakiyah Pasca Nyaris Diterkam Buaya

  • Whatsapp

TIMUR. Hidup ini sudah tak pasti. Namun bagi Sakiyah (53) jurang ketidakpastian itu semakin menjadi. Usai satu jarinya putus diterkam buaya September 2019 lalu. Kala dirinya hendak mengambil kangkung di kolam milik perusahaan swasta tak jauh dari kediamannya.

Read More

Ketika ditemui awak redaksi KlikBontang (Timur Grup) di rumahnya Jalan Mayjen Suyoto, Kelurahan Berbas Tengah, Kecamatan Bontang Selatan, beberapa waktu lalu, Sakiyah nampak bingung. Jarang-jarang kediamanya disambangi tamu.

“Iya, ada apa ini?” tanyanya sopan, dengan dialek Jawa yang kental.

Meski gelagat bingung belum pudar, senyum dan guratan penuaan yang mendominasi wajahnya Sakiyah menerima tamu dengan baik. Mempersilahkan mereka duduk seraya dirinya mencari posisi tepat untuk duduk.

Dengan gerak hati-hati, dan begitu lunglai, Sakiyah duduk lesehan tepat di pintu rumah.

”Sudah baikan, tapi di bagian sini (sambil menunjuk bagian paha) masih sakit. Tangan ini aja baru bisa digerakkan. Kemarin-kemarin kaku tidak bisa gerak,” bebernya ketika ditanya kondisinya saat ini.

Dijelaskan Sakiyah, usai dilarikan warga ke rumah sakit, dirinya mengalami perawatan intensif selama dua pekan. Dalam masa perawatan itu, ia juga dioperasi dan dirujuk ke RS pemerintah di Samarinda.

Sakiyah mengisahkan bagaimana kala di rumah sakit, ia ‘bertemu’ sang suami dan memarahinya. “Kenapa kamu pergi duluan enggak pulang-pulang. Aku ini capai urus anak sendirian,” Sakiyah mengulang ucapannya dalam pertemuan itu.

Belakangan Sakiyah tahu, itu hanya mimpi. Namun dia merasa, itu adalah luapan lelah dan rindunya pada sang kekasih hati. Ia rindu bersama suami, dan sejatinya berharap bisa membesarkan anak-anak bersama, bukan seorang diri.

Tapi mau diapa, sejak lima tahun silam ayah dari anak-anaknya telah berpulang. Lantaran berbagai komplikasi penyakit, plus gaya hidup tak sehat. Kerja banting tulang, namun asupan gizi dari konsumsi sehari-hari tak imbang. Belum lagi, waktunya tak menentu. Kadang cepat, kadang lambat. Kadang makan porsi normal, kadang tidak.

Hidup sudah demikian susah sejak suaminya berpulang ke pangkuan Tuhan. Semakin berat lagi sejak satu jarinya –ibu jari– putus lantaran diterkam buaya September 2019 lalu.

Dengan kondisi yang masih jauh dari kata pulih, entah siapa yang dapat diharapkan memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Dua anaknya masih sekolah, tak bisa diharapkan mencari sumber penghasilan. Sementara beberapa anak yang sudah menikah pun, hidup pas-pasan. Sakiyah tak tega bila meminta.

Sementara dengan kondisinya saat ini, praktis pekerjaanya sebagai asisten rumah tangga tak bisa dilakoninya. Buku-buku jarinya saja baru bisa digerakkan, usai sebulan kaku total. Paha yang masih terasa sakit ketika dirinya memaksa berjalan jauh.

“Mencuci saja tidak bisa, Nak. Makanya saya minta sama anak-anak buat cucikan baju,” jelasnya.

Sejak insiden buruk menimpanya, tak ada sumber pemasukan lain, selain bantuan warga kota. Ada beberapa bantuan, baik dalam bentuk uang tunai atau sembako. Itulah yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tentu dengan kehati-hatian agar tak cepat habis.

Namun demikian, Sakiyah sadar benar, bantuan akan berhenti mengalir, dan sumbangan yang diterimanya cepat atau lambat bakal tandas. Seberapa pun dia berhemat.

Sebabnya ia ingin segera sehat, tak perlu kembali seperti semula. Namun cukup kuat untuk mengerjakan tugas-tugas harian. Ada dua anak yang perlu membutuhkan biaya sekolah. Pun seluruh keluarga masih butuh biaya hidup sehari-hari, yang kesemuanya bertopang pada tubuh rentah Sakiyah

“Kalau bisa saya ingin seperti dulu lagi, meskipun kecil namun saya ingin mendapat penghasilan untuk dua anak saya yang masih sekolah,” ujar Sakiyah, nampak linang air mata tertahan di pelupuk matanya.(Saf/Fit)

Related posts