TIMUR – Saban penghujung tahun, seolah menjadi momok menakutkan bagi sekitar 70 persen dari 736 ribu jiwa yang mendiami Balikpapan, Kalimantan Timur. Mereka itu pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum PDAM Tirta Manggar yang menggantungkan hidupnya pada pelayanan air bersih. Belakangan, mereka kesulitan mendapat pasokan air bersih.

Alasannya sumber air baku Waduk Manggar, di Karang Joang Balikpapan Utara, terus mengering. Selama ini Waduk Manggar sumber utama air baku di Balikpapan. Tapi pelanggan harus menunggu hujan selama berbulan-bulan.

Terkadang, kedatangannya tidak bisa diprediksi, kadang lebih awal, kadang pula telat. Sedang PDAM belum jua menyelesaikan kewajibannya. Hujatan warga tidak bisa terhindarkan. Mereka terus bersuara lantang-mencaci maki PDAM dan pemerintah kota yang dinilainya gagal menyediakan air bersih bagi warganya.

Cacian itu disampaikan secara massif di media sosial, turun ke jalan hingga menuntut ganti rugi. Sebab PDAM dan Pemkot Balikpapan dianggap lalai dan melanggar Undang Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999.

Padahal, sejak tahun 2008, PDAM sudah diberi keistimewaan melalui Perda dan Perwali menaikan tarif dasar 10 persen.

“Ini awal perjuangan saya sebagai konsumen yang dirugikan PDAM. Tiap tahun tarifnya naik sebesar 10 persen sejak tahun 2008. Saya selalu dirugikan. Bayar tiap bulan tapi air tidak pernah mengalir. Ini sudah berbulan bulan,” ujar pelanggan PDAM Tirta Manggar Balikpapan, Mappaselle Bin Benteng

Mappaselle mewakili serluruh keluhan pelanggan PDAM yang sejak Desember tahun lalu tidak pernahlagi menikmati segarnya air bersih. Sebaliknya, mereka harus mengeluarkan kocek besar membeli air dari jasa penjualan air.

Tiap tandon dijual Rp150 ribu. Naik dua kali lipat dari harga normal Rp70 ribu per tandon. Sebagian warga menghabiskan satu tandon hanya dua sampai tiga hari. Ini digunakan untuk mencuci, mandi, dan memasak.

“Biasanya saya hanya keluarkan biaya pemakaian air Rp400 ribu per bulan bayar tagihan. Sudah tiga bulan saya beli air tandon. Perbulannya habis Rp1,5 juta. Airnya mati enam hari, ngalir hanya sehari. Bayangin kalau yang tidak mampu beli air bagaimana,” keluh Mappaselle.

Prev1 of 2