TIMUR – Sang Surya merayap naik dengan malu-malu. Kabut sisa malam yang dingin masih enggan untuk pergi. Di bawah jalan layang, sebuah motor melintas pelan membelah jalan yang sepi. Pengemudinya seorang wanita yang membonceng bocah kecil di belakang.

Di belakang motor yang dikemudian wanita dengan anaknya itu, membuntut motor lain. Pengemudinya seorang pria. Berbadan tegap. Persis ketika motor di depannya sampai di bawah jalan layang, motor yang dikemudian oleh si pria menyalip.

Ketika posisi motor bersebelahan, pria pengemudi motor memiringkan tubuhnya. Dia menyambar tas milik pengendara di sebelahnya. Tarik-tarikan sempat terjadi. Namun, tenaga besar si pria mengalahkan perlawanan wanita malang itu.

Tas terlepas dari tangan si wanita. Tubuhnya tak mampu menguasai laju motor. Kendaraan oleng. Celaka bagi membentur aspal jalan yang keras. Sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong.

Sementara, sang bocah yang berada di belakangnya, meski mengalami luka memar dan lecet, namun berhasil selamat dari peristiwa mengerikan itu.

Rika Novianti menjadi korban perampokan ketika dirinya hendak pergi mengajar di SIT Cordova. Setiap pagi, sebelum bekerja, Rika selalu membawa anaknya. Dia terlebih dahulu mengantar anaknya sekolah, setelah itu barulah dia pergi ke tempatnya bekerja. Namun, pagi nahas itu menghilangkan jadwal rutin itu selamanya.

Tak ada lagi kegiatan mengajar. Tak ada lagi mengantar anak ke sekolah. Rika tewas di rumah sakit setelah sempat dinyatakan koma.

Peristiwa nahas yang dialami oleh Rika itu memantik kemarahan warga kota. Selang beberapa jam setelah dia dinyatakan meninggal, ratusan orang turun ke jalan. Warga mengatasnamakan aliansi masyarakat Samarinda menuntut rasa aman dari aparat.

Aksi dilakukan di depan Mapolresta Samarinda. Warga tak mau kasus penjambretan sadis itu terulang kembali. Harus ada sikap dari aparat untuk memberikan rasa aman kepada mereka.

Sikap spontan masyarakat Samarinda ini tergolong dadakan. Didorong oleh viralnya berita penjambretan terhadap Rika di berbagai media sosial. Sebuah laman diskusi di Facebook bahkan memetakan berbagai kawasan rawan di Kota Tepian.

Hasilnya, ada puluhan jalan berbahaya yang menjadi daerah favorit para penjambret. Indikasinya bermacam-macam. Mulai dari kondisi jalan yang gelap hingga lokasi yang jauh dari keramaian.(*)