TIMUR – Rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan dua daerah, Penajam Paser Utara dan Balikpapan tak jelas wujudnya. PPU menjadi pihak yang paling menggebu menyambut rencana lawas tersebut.

Namun, Balikpapan terkesan setengah hati dengan rencana tersebut. Penetapan titik nol dari Balikpapan menjadi masalahnya. Di sisi Balikpapan, penolakan dari masyarakat masih terlihat jelas.

Dari Balikpapan, penolakan menyeruak karena titik nol jembatan direncanakan bermula di Melawai. LSM Stabil sudah mengeluarkan statemen penolakan.

Lembaga tersebut beralibi, Melawai adalah kawasan perlintasan spesies langka. Salah satunya adalah lumba-lumba hidung botol. Kalau di titik tersebut didirikan tiang penyangga jembatan, dia menjamin hewan itu tidak akan lagi terlihat.

Penolakan tidak hanya datang dari kalangan LSM. Dari para motoris yang biasa mangkal di Pelabuhan Semayang juga menampakkan penolakannya. Mereka takut jembatan itu mengurangi pendapatan, atau bahkan menghilangkannya sama sekali.

Ada wacana Pemkot Balikpapan akan memindahkan jalur mereka mencari penumpang, tetapi belum ada kejelasan sampai sekarang.

Nah, di sisi Penajam, Bupati Yusran Aspar menyatakan kesiapan daerahnya bila jembatan itu jadi didirikan. Bahkan, PPU sangat siap bila pemancangan tiang pertama jembatan dilakukan akhir tahun 2016. Yusran menuturkan, kekuatan keuangan PPU sanggup untuk membiayai pembangunan jembatan secara multiyears.

Penajam memang paling berkepentingan dengan pembangunan jembatan. Jembatan itu diyakini akan menggairahkan ekonomi di daerah perlintasan tersebut. Warga Penajam yang kebanyakan petani akan lebih mudah membawa hasil pertaniannya ke Balikpapan untuk dijual. Geliat perdagangan akan membuka pundi penghasilan bagi warganya.(*)