TIMUR. AL, ayah dari anak 8 tahun pasien positif rapid test Covid-19 yang meninggal pada Jumat (24/4/2020), berkali-kali menegaskan jika dirinya tak berbohong dan menyembunyikan riwayat perjalanan yang dilakukannya.

Melalui pesan jejaring sosial Whatsapp, AL membeberkan kronologi dan riwayat medis anaknya hingga dinyatakan positif rapid test oleh tenaga medis RSUD Taman Husada.

Dirinya mengaku jalani dinas luar kota ke Jakarta pada 16 – 19 Maret lalu, bersama tujuh pegawai. Setiba di Bontang, ia pun melapor ke Public Safety Center (PSC) Covid-19 Bontang via Whatsapp.

Atas laporannya, admin call center menyarankan AL menjalani karantina mandiri 14 hari, hingga 2 April 2020. Selama karantina mandiri, AL mengaku sangat disiplin menerapkan social dan physical distancing di rumah.

“Sebelum tiba di Bontang, saya sudah meminta istri menyiapkan kamar khusus, alat mandi, alat makan sendiri. Bahkan mandi pun saya menggunakan kamar mandi sendiri,” ungkap AL kepada KlikKaltim.com (Timur Grup).

Selama 14 hari itu, AL pun hanya keluar untuk berjemur di teras rumah. Ia juga tidak pernah berinteraksi dengan istri dan 3 anak meski tinggal satu atap.

“Istri dan 3 anak berada di kamar lain. Jadi selama karantina tidak pernah interaksi. Pokoknya saya disiplin. Hanya keluar kamar kalau berjemur. Sampai-sampai asam lambung saya kambuh.” lanjut dia.

Baca Juga: Satu Pasien PDP Meninggal, Layanan IGD RSUD Bontang Tutup Sementara

Baru pada 3 April, setelah ada pesan whatsapp dari admin PSC, AL berani melanjutkan aktivitas hingga berkantor.

Berikut petikan isi pesan Whatsapp PSC Covid-19 Bontang yang diterima AL:

Bapak ibu yang kami hormati, hari ini anda telah melewati masa isolasi mandiri dan dapat beraktifitas seperti semula, namun tetap disarankan social distancing, berperilaku hidup bersih dan sehat, mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi, istirahat cukup, apabila anda mengalami penurunan kesehatan silahkan hubungi call centre kami kembali.

Seiring berjalannya waktu, putra kedua AL harus masuk rumah sakit dan dirawat pada 6 April 2020. Saat mendaftar dan mengambil badge jaga, sekuriti rumah sakit memang menanyakan terkait riwayat perjalanan.

“Securìty bertanya apakah memiliki riwayat perjalanan selama 2 minggu terakhir. Karena saat itu sudah tanggal 6 april (sudah 18 hari sepulang dari Jakarta) ya saya jawab tidak ada. Jadi mohon maaf, tidak benar kalo saya dibilang tidak jujur memberikan keterangan ke pihak rumah sakit,” jelasnya.

Baca Juga: Sejumlah Fakta Pasien PDP Covid-19 di Bontang Sebelum Meninggal

Baca Juga: Ortu Pasien PDP Meninggal Ada Riwayat Perjalanan ke Jakarta

Hasil diagnosa dokter, anak AL diketahui sakit ginjal dan harus dirujuk ke RS AW Syaharanie Samarinda, tapi sebelumnya harus dengan rujukan RSUD Taman Husada Bontang. Namun saat di RSUD Taman Husada, kondisi sang anak sudah kritis.

“Di RSUD anak saya melalui rapid test dulu, sampai 3 kali diperiksa baru diketahui hasilnya positif. Kondisinya sudah sangat drop,” terang dia.

Atas kepergian putranya, AL mengaku sudah sangat ikhlas. Namun di tengah kedukaan itu, ia mengaku tetap sabar menghadapi stigma Covid-19, dan banyaknya bully yang menghampirinya.

“Nanti biar Allah yang memahamkan masyarakat,” pungkas AL. (*)