Youtube Tak Lagi Jadi Ladang Emas

  • Whatsapp

TIMUR. Atta Halilintar dan Ria Ricis belum lama ini mencetak prestasi baru sebagai YouTuber. Bukan main-main, diamond play button dikantongi keduanya setelah berhasil menembus subscriber di atas 10 juta. Secara berurutan, jumlah angka pelanggan untuk masing-masing Ricis dan Atta, yaitu 10,6 juta dan 11,7 juta.

Read More

Pencapaian itu tentu saja membanggakan bagi Ria maupun Atta, yang kemudian tak luput ditayangkan di kanal YouTube masing-masing. Di sana tercantum bahwa prestasi diamond play button yang mereka raih merupakan yang pertama kalinya di Asia Tenggara. Bukan lagi Indonesia.

“Alhamdulillah Terima Kasih ya Allah hari ini Kau berikan hadiah yang luar biasa, Diamond Button Perempuan Pertama Asia Tenggara,” tulisan di video Ria Ricis yang diunggah pada 21 Februari 2019.

Sementara Atta, berharap akan mencapai tingkat lebih tinggi lagi yaitu King of YouTube Asia, jika berhasil mencapai subscriber 13 juta, “Mudah-mudahan sampai ke sana. Ada rekor 13 juta karena itu paling besar. Sedikit lagi se-Asia.”

Atta dan Ricis tentu saja bukan satu-satunya YouTuber di Indonesia. Sederet nama konten kreator juga berjalan seiring mereka merebut pasar pemirsa YouTube. Bahkan beberapa di antaranya didukung nama besar sebagai selebriti, misalnya Raditya Dika, Aurel Hermansyah, Gading Marten, Deddy Corbuzier.

Namun Atta dan Ricis, yang juga telah dijuluki King dan Queen of YouTube seolah benar-benar menjadi penguasa platform media sosial berbasis video itu. Jumlah subscriber mereka jauh melampaui lainnya, seperti Tasya Farasya yang membuat konten seputar make up, atau Ria SW yang menampilkan kuliner.

Jika diamati, video yang disajikan Atta maupun Ricis justru bernuansa receh. Istilah zaman sekarang untuk menyebut sesuatu yang bersifat tidak penting, ringan, atau sepele. Ricis banyak membuat vlog tentang kehidupan sehari-harinya, sedangkan Atta belakangan ini relatif lebih matang dengan membahas seputar traveling dan otomotif.

BUKAN RECEH

Namun pakar media sosial Heru Sutadi tak sepenuhnya setuju penyebutan receh untuk konten video Atta dan Ricis. Menurut Heru, di balik karya-karya mereka, ada tim yang ikut terlibat, didukung peralatan dan persiapan yang matang.

“Ya sebenarnya pencapaian Atta Halilintar dan Ria Ricis ini kan memang bukan tiba-tiba. Sudah beberapa tahun mereka berkarya sebagai YouTuber. Dan itu kan dimulai dengan sebuah karya yang enggak receh,” kata Heru.

“Itu karya yang memang dipersiapkan. Ada konsep yang matang, pengambilan gambarnya juga enggak sembarangan. Dengan hasil karya mereka itu, sampailah sekarang mereka penggunanya cukup banyak,” tandas Heru saat berbincang melalui telepon, 1 Maret 2019.

Setelah melalui proses panjang hingga berbuah pelanggan dalam bilangan puluhan juta, dikatakan Heru, lebih mudah lagi bagi Ricis maupun Atta untuk mendulang banyak penonton untuk kontennya.

“Sekarang ibaratnya mereka sudah di atas angin. Dengan subscriber di atas 10 juta, ibaratnya konten apa pun, mereka (penonton/subscriber) akan lihat. Ya, akhirnya mungkin bikin yang ringan-ringan,” ujar Heru.

Namun, Heru juga mengamini terhadap anggapan bahwa masyarakat kini cenderung lebih suka pada konten yang ringan, dan tak membuat kening berkerut.

“Ada memang yang seperti itu. Kita sudah capek-lah mikir-mikir tentang politik, mikirin tentang kehidupan, pengin yang enteng-enteng, ada juga. Ya, terutama generasi milenial yang malas dengan yang bikin pusing,” kata Heru menambahkan.

Meski begitu, ditegaskan Heru, tentu saja masih ada sebagian orang yang tetap ingin menonton konten-konten bernilai informasi tinggi. Misalnya karena ingin memetik suatu pelajaran dari tayangan atau proses kreatif dari YouTuber itu sendiri.

“Tapi saya berpandangan, jangan sampai karena penggunanya banyak, ya udah lah kasih sampah aja, orang toh akan lihat. Nah, nilai-nilai memberikan suatu kebaikan, motivasi, hal-hal positif, pengetahuan, juga jangan sampai ditinggalkan,” pesan Heru.

“Misalnya lagi nge-tren gerebek rumah, trus ke rumahnya artis Sule. Jangan hanya menayangkan peristiwanya, tapi juga diangkat misalnya, gimana nih perjalanan Sule sampai rumahnya bisa bagus begini. Itu mungkin akan dapat cerita yang inspiratif karena bisa jadi Sule akan bercerita bahwa itu tidak mudah bukan dengan membalikkan telapak tangan,” paparnya.

Prev1 of 2

Related posts